Nostalgia lalu terimbau di sudut mindaku
Mengusik hati berpaut pada kerinduan
Mengocak kedamaian
Menyambut malam ku yang resah
Kenangan bersama keluarga
Terpahat dalam ingatan.
Biar betapa jauh aku melangkah
Menyusuri jalan hidup sendiri
Nostalgia itu masih memburu
Setiap lena atau sepi
Ia datang dan menghampiri
Sebuah kerinduan pada kasih dan sayang
Di mana semuanya kian lebur
Di mamah waktu-waktu berlalu
Walau seketika aku hampiri kemelut rindu
Emak....Ayah yang tiada lagi
Saudara-saudara kandungku...
Dengarlah rintihan hati ini.
Usia yang semakin menguning
Mengejar masa petang yang lewat
Perginya sesaat membawa bayu pilu
Menerkam pintu hatiku yang biru
Emak.. Ayah...
Yang pergi takkan kembali
Menyahut seruan ILLAHI
Di pusara dedaun kering merimbun
Hati tersentuh hiba
Jiwa merintih menangis
Sebuah kerinduan yang tiada ubatnya.
Saudara-saudara kandungku
Kita saling berutus cerita
Kita selalu bertemu muka
Usik mengusik dan senda gurau
Masih ada tersisa
Biar sekilas waktu
Harap tak akan pudar ditelan detik-detik hadapan.
Aku di sini menghitung waktu
Bilakah suatu masa bertamu
Ingin buangkan belenggu rindu
Bebaskan dari rasa mengcengkam
Moga ada ruangnya kita akan bersua lagi
Bermesra bagai dulu
Indah dan manisnya pertemuan
Membisik rasa membelai perasaan
Aku pasrah mengharap...
Tunggulah saat itu.....
Pasti nostalgia kita bisa terlerai
Satu persatu.
Pesanan arwah jangan dilupa
Berbaik pakat dalam apa rencana
Usah sengketa menjadi raja
Bersatulah demi kasih dan sayang
Amanat mereka jangan persiakan
Junjunglah sehingga ke akhir hayat.


No comments:
Post a Comment