Tersepit di tengah-tengah antara keterlanjuran kata-kata yang membawa masalah dan rasa serba salah.
Bercakap dari mulut ke mulut itu lebih baik daripada mesej yang membawa padah.
Buntu memikirkan cara terbaik bagi melenturkan keadaan.
Tak berani bersuara dan tak sanggup berada di tengah-tengah kemelut perselisihan.
Mampukah aku atasi semuanya...
Aku sangkakan Ramadhan membawa sinar baru yang malap sebelumnya.
Rupanya Ramadhan yang menjelang tiba membawa lebih kekusutan.
Namun aku pasti ada hikmah di sebalik apa yang terjadi ini.
Ya Allah kuatkan imanku bagi melalui saat-saat sebegini.
Semoga cahaya kedamaian akan hadir dan menepis setiap permasalahan yang wujud.
Buat yang mengerti...ampun maaf atas apa yang terjadi.
Ingin terus berhati-hati agar tiada siapa yang akan disakiti lagi.
Namun mampukah aku membendung setiap pergolakan yang hadir tanpa diundang ini?
Mengapa aku dijadikan sandaran bagi meleraikan setiap gelodak hati kalian.
Mengapa aku dijadikan tempat segala keresahan dan masalah yang menjerat hati kalian.
Aku bukan seorang pakar kaunseling atau siapa-siapa.
Aku hanyalah aku...seorang manusia biasa yang kerap leka dan melakukan kekhilafan seperti kalian.
Terlajak perahu boleh diundur
Terlanjur kata begitu buruk padahnya
Mungkin kata-kata yang kurang jelas dan kabur memungkinkan semua ini terjadi.
Tetapi sebenarnya dendam dan gejolak kemarahan kalian yang mencetuskan apa yang berlaku.
Aku antara insan yang berada di tengah-tengah antara kalian berdua..
Terlanjur bicara dalam pesanan ringkas membuatkan kemarahan terpendam marak kembali.
Marak bagai gunung berapi yang memuntahkan laharnya.
Kini aku dijadikan punca persengketaan ini.
Perselisihan yang tidaksepatutnya berlaku antara kita kerana kita adalah.......
Salah asuhan ibu bapakah ....
Atau kasih sayang yang tidak seimbang kita terima daripada mereka.
Aku juga selalu dijadikan tempat untuk kalian melepaskan rasa tidak puas hati.
Mengapa aku selalu menerima nasib yang sebegini.
Alangkah malang nasibku.
Berat mata yang memandang berat lagi bahu ku yang memikulnya.
Aku ingin lepas bebas bagai burung-burung di awangan.
Tanpa menerima tamparan maha hebat daripada kalian.
Aku ingin sebebas camar di laut membiru.Tak sanggup lagi diriku umpama lilin yang selalu membakar dirinya demi orang lain.
Izinkan aku terus pergi dari hidup kalian.
Usaikan lah perselisihan kalian tanpa campur tangan aku.
Semoga Ramadhan ini memberi NUR kepada kalian.
Nur keimanan..Nur keinsafan..Nur kasih bagi kita semua dalam melayari hidup di hujung petang.
Salam Ramadhan salam kedamaian.


No comments:
Post a Comment