Engkau pernah mendendangkan lagu mu
Melodinya sayu dan penuh bait-bait pilu
Sesekali menuntut kepedihan
Rentak irama yang penuh sendu
Di sebalik langsir kehidupan sang gadis
Banyak beronak dan berliku
Dari lipatan peristiwa kelmarin
Terus mencengkam sanubarimu.
Engkau sesekali mengalun rentak tari mu
Di pentas persada hidup
Biarpun irama tari agak sumbang dan kaku
Namun alunan langkahmu
Tetap setia mengorak perlahan
Dan utuh berbekal setitis harapan.
Engkau terkadang bercerita
Tentang sandiwara sebuah percintaan dan kehidupan
Walaupun simbolik dan agak puitis
Namun aku mengerti maksud yang terlampir
Biar tersorok di sebalik senyum tawamu
Kerana ada tersemai
Mawar kelabu yang tawar
Di piala hati kecil mu.
Engkau biasa mengukir senyuman
Tapi pada matamu terpancar tangisan
Lama dan amat mendalam
Bagumu pelangi tidaklah seindah warnanya
Lantaran wujudnya terlalu singkat
Persis kebahagiaan yang pernah menjadi milikmu
Yang terlalu sekejap dan sekejam
Umpama pisau yang menghiris tajam
Luka berdarah dan amat berbisa
Meragut impian perawan mu.
Hari ini engkau terdiam lesu
Di ranjang engkau terkedu
Bersama tangisan si anak comel
Yang tidak ada binti nya
Aku meratapi nasibmu bersama
Berulam nasihat dan kata-kata perangsang
Moga kekhilafan tidakkan berulang
Dan hari-hari hadapan hidupmu
Penuh keinsafan
Dan berlandaskan ketaqwaan ILAHI.


No comments:
Post a Comment